“Rim!!,”
Suara itu menyalak membelah gendang telinga. Suara itu bagai hantu dalam ketakutan. Suara itu masih setia terekam dalam memori ingatan. Suara itu seolah melemahkan saraf dan seluruh organ tubuhku. Suara itu..Suara itu..Ah!!
Sudah tujuh belas tahun aku dibekali nama Rim yang menurutku tanpa alasan. Tujuh belas tahun yang cepat namun lama kulalui. Tujuh belas tahun sengaja kurelakan orang memanggilku Rim.
Rim? sebuah nama yang menurutku tak berarti. Sebuah nama yang kerap menjadikan hidupku kelabu.
“Aulia Firda Sari?”
“Ada Pak!”
“Najwa Kintan Fahira?”
“Ada Pak!”

Sedetik lagi namaku akan dipanggil. Astaghfirullah, kuatkanlah hamba-Mu ini.
“Rim?” Dugaanku tepat setepat kilatan petir menyambar wajah. Dengan wajah gugup dan malu seperti hari yang sudah, aku menjawab dengan pelan. Namun, sebelum mulut ini bersuara, tiba-tiba ada yang berteriak dari belakang,
“Rim..bun pepohonan, Pak!” Tidak berhenti di situ. Teman-teman usil lain di sampingku juga ikut menyumbangkan suara, “Rim cakram Pak!” lalu disusul gelak tawa teman sekelas.
Ya Allah separah inikah akibat namaku ini? Halalkah Aku bila Aku merajam dan mengutuk orang tuaku yang telah memberi nama itu? Aku rasakan rinai air mata hangat di pipiku. Mataku sembab. Sesak sekali kurasakan nafas didada.
“Rim?” Suara Pak Firman mengoyak kalut yang sesaat.
“Hadir Pak” panggilan itu kujawab lemah.
***
Begitulah sepenggal kisah hidupku sehari-hari. Rim adalah orang yang harus kuat menahan ejekan dan hinaan teman-teman sekelas. Pernah suatu waktu, saat ibu dan bapakku memiliki waktu senggang memperbincangkan namaku. Ku tanya maksud dan arti Rim.
“Rim tak tahan dengan ejekan teman-teman sekelas Pak.”
“Nama itu bukan sebuah jaminan bagi seseorang untuk masuk surga, Nak. Jadi, biarkan teman-teman kamu mengejekmu dengan panggilan-panggilan semacam itu.” Gurat wajah tua bapakku seperti tak mengandung beban.
“Dihadapan Allah, akhlaq dan iman yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Bukan nama!”
Memang, yang kelak melempar manusia yang hidup di bumi ini ke surga bukanlah nama. Melainkan Iman dan Taqwa. Lantas, bagaimana jika seseorang bunuh diri akibat dirinya kesal terhadap namanya? Iman dan takwa yang mana yang akan ia pakai? Bukankah sebuah nama memiliki keterkaitan dengan iman? Bukankah Rasulullah juga menuntun kita agar memberi nama yang bagus dan baik kepada anak-anak kita? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba menggelayut di benakku meski tak kuasa aku sampaikan kepada bapakku.
Suasana hening sejenak sehening perasaanku.
“Nduk, Bapak memberikan nama itu bukan tanpa alasan,” Sambung Ibu sembari mengelus kepalaku. Sedikit ada kehangatan yang kurasakan. Kehangatan dari sebuah sentuhan seorang ibu.
“Dulu, mendiang nenekmu berpesan, jika kau lahir sebagai seorang perempuan agar diberi nama Rim. Atas dasar itulah bapakmu memberikan nama itu.”
“Sesederhana itukah alasannya, Bu?” Pandanganku sedikit kuarahkan ke bapak yang sibuk dengan tuts-tuts keyboard-nya.
“Begini Nak, Rim sebenarnya sebuah nama dalam sejarah Kerajaan Apache. Rim adalah seorang wanita gigih yang memperjuangkan kesetaraan gender dan hak-hak kaum wanita yang kala itu dikesampingkan oleh tata aturan kerajaan. Lantaran Rim-lah banyak wanita-wanita yang berani menerobos dinding tebal kerajaan hanya untuk menuntut hak-hak mereka sebagai Kaum Hawa.” Sejenak bapak menghela napas.
Sedikit ada kenyamaan dan kelegaan dalam hati.
“Nah, karena mendiang nenekmu sebagai penggiat sejarah. Beliau menginginkan agar Rim disematkan dalam daging kamu. Sebab, beliau ingin kamu bisa meniru sifat-sifat kepahlawan Rim di Kerajaan Apache.”
Setelah melalui proses panjang, relungku yang paling dalam mulai bisa menerima. Jika benar apa yang diceritakan orang tuaku, kenapa aku harus berkecil hati dengan namaku. Rim..  Iya Rim. Seorang pahlawan gender dalam sejarah Apache.
Di kantin samping sekolah, aku duduk sendiri menikmati bakso buah tangan Mak Icah. Menyendiri, karena secara naluri, aku masih belum pede berbaur dengan teman-teman. Ya, sebab namaku Rim!
Lima menit berselang, tiba-tiba ada yang memanggilku. “Rim, ada tulisan tentang kamu di mading sekolah.” Serunya sambil tersenyum seolah menyembunyikan sesuatu yang lucu.
Ada apa kira-kira? Tentang dirikukah? Atau, jangan-jangan ada lagi tangan-tangan usil yang sengaja menulis sesuatu di mading sekolah tentang kejelekan namaku?
Perasaanku tak menentu. Meski begitu, aku beranikan diri menuju mading sekolah. Cerita tentang Rim seorang pahlawan gender di Kerajaan Apache akan kujadikan tameng. Bismillah…
Sepuluh meter sebelum mading sekolah, ponselku berdering. Ada nomor baru yang muncul. Terpaksa kuhentikan langkahku.
“Assalaamu’alaikum, Rim!” Sapa di seberang sana dengan nada setengah cemas.
“Wa’alaikum salam. Siapa ya?”
“Nama tak penting untuk dikenal. Yang pasti, demi menjaga perasaan kamu, tolong jangan dekati mading itu.” Singkat. Namun, itu membuat hatiku semakin cemas. Sebab, tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba ada seseorang yang mengingatkanku agar tidak mendekati mading. Apa hubungannya dan apa pedulinya?
Ah, tanpa kuhiraukan ponsel yang masih calling di tanganku, kakiku tak surut meneruskan langkah mendekati mading. Lamat kudengar teriakan “Rim!!, Rim!!” dari ponsel di tanganku.
Setelah tiba tepat di depan mading, mataku nanar menatap beberapa baris tulisan yang sengaja ditulis dengan huruf kapital berukuran besar. Hatiku sesak saat mata mengikuti baris per baris tulisan itu.
“RIM..BUN PEPOHONAN DITAMAN SE-RIM-BUN JERAWAT YANG MENEMPEL DI WAJAHNYA”
Aku semakin tak kuasa membendung bulir-bulir air mata saat menatap tulisan di baris selanjutnya…
R: Rumah
I: Idaman
M: Menanti
JADI, SINGKATAN RIM ADALAH KUBURAN.
Entah bagaimana wujud tubuhku saat ini. Sekelilingku semua menertawaiku. Bagai dihantam kilatan petir, wajahku hangus tak bersisa. Saat ini hanya ada satu jalan. Lari. Ya, lari dari sebuah kenyataan hidup yang terasa pahit dan menyakitkan!
Aku berlari tanpa menghiraukan mereka yang ramai menertawakanku. Berlari membawa serimbun air mata tanpa arah. Tak terpikir lagi olehku tentang keberanian seorang Rim dalam hikayat yang pernah diceritakan bapak. Berlari dari lingkaran setan, berlari, dan terus berlari.
Tepat di depan pintu gerbang sekola “Brakkkkk!!!!!”
Kepalaku pening. Samar kulihat tubuhku bersimbah darah. Aku terlelap bersama kabut air mata yang membuncah. Ah!
****
Sisa pening yang kurasakan saat dihantam motor Yamaha Jupiter MX warna merah di depan sekolah itu kembali kurasakan. Menurut bapak, tubuhku terkapar lemah di rumah sakit umum ini sudah tujuh hari. Artinya, satu minggu aku tak sadarkan diri. Awalnya, bapak merahasiakan kondisi tubuhku. Namun, akhirnya bapak menceritakan yang sebenarnya. Akibat kecelakaan itu, aku divonis dokter mengalami gegar otak ringan.
Gegar otak ringan? Gara-gara namaku Rim, aku mengalami gegar otak ringan? Sebegitu gampangkah vonis itu muncul di tubuhku? Lantas, seringan apakah kehidupan yang kelak akan aku jalani? Mampukah Aku hidup tegar setegar Rim dalam sejarah itu? Tidak! Kali ini aku telah menjadi Rim yang gegar otak ringan, dan bukan Rim yang berhasil mengangkat derajat Kaum Hawa. Akulah Rim yang terkulai di atas ranjang pesakitan.
Cerita ini turun seperti air hujan yang tercurah dari langit dan terus mengalir menuju ceruk, kanal, dan sungai-sungai di tepian bukit menuju muara. Dan, muara tempat semua air berteduh seolah menolak kehadirannya. Oktober yang sembab di pengujung bulan.
Kupandangi ibu duduk lemas di sampingku, seolah meratapi takdirku.
“Kamu yang kuat ya, Nak! Semua ini kehendak Allah,” kata ibu memelas ambil mengusap air matanya.
“Rim tidak apa-apa, Bu. Rim akan terus kuat menjalani cobaan ini. Rim akan terus menjadi Rim yang didambakan nenek,” begitu polosnya aku mengutarakan kalimat itu. Seolah tak ada beban yang bergejolak.
“Mudah-mudahan saja begitu, Sayang.” Pelukan ibu begitu hangat dipaksakan mendarat tanpa mempedulikan kondisi tubuhku. “Oya, Ibu hampir lupa sayang. Kemarin ada teman laki-laki kamu yang membesukmu lalu menitipkan surat ini untukmu.” Teman laki-laki? Adakah teman laki-laki yang sudi berteman denganku? Dengan Rim?
Tanpa pikir panjang, kubuka isi surat itu.

Assalaamu’alaikum, Rim..
Salam kenal, Aku Rian, seseorang yang sempat meneleponmu sebelum akhirnya kau berada di sini.
Sebuah nama sebenarnya tidak perlu untuk ditakuti. Nama diciptakan untuk disyukuri. Karena nama, kita terbeda dengan makhluk-makhluk selain kita. Karena nama pula kita mendapat sebuah panggilan yang resmi. Kata Rosul, berilah nama anak-anakmu dengan nama-nama yang baik. Dan perlu diingat, bahwa nama yang baik bukanlah nama yang trend pada saat ini. Akan tetapi, sebuah nama yang bisa dijadikan cermin kesalehan perilaku seseorang.
Jika menurutmu “Rim” terlalu jelek untuk seorang yang sangat cantik sepertimu, izinkan aku mengusulkan sebuah nama, “Rimliyani” kepadamu. Artinya, pasir-pasir yang bertebaran di segala penjuru dan sudut muka bumi. Sehingga kelak, kamu bisa memiliki ilmu seluas pasir dan menebarkan ilmu ke seluruh muka bumi. Nama yang cantik, bukan? Semoga Allah selalu bersamamu. Amin!!
Wassalaamu’alaikum………..

“Terima kasih, Allah! Terima kasih Rian! Terima kasih Ibu-Bapak!” Tiba-tiba ada sesungging senyum mengembang di bibirku ditingkahi air mata yang terus berjatuh dan mendarat di pipi. Seperti ada pendar-pendar harapan yang menggurat dan menggumpal menjadi sebuah tekad. Tekad yang bulat mengikuti apa yang disampaikan Rian. Sebuah jalan agar aku bisa keluar dari lingkaran masalah yang tak berujung, dari sebuah nama, namaku Rim.